Mereka yang Menanggung Banyak, Tapi Tetap Ingin Punya Rumah
Memiliki rumah merupakan impian banyak orang karena rumah tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga simbol keamanan dan kestabilan hidup. Namun, bagi sandwich generation, memiliki rumah sering menjadi tantangan yang cukup berat. Sandwich generation adalah kondisi ketika seseorang harus memenuhi kebutuhan dirinya sendiri sekaligus membantu kebutuhan orang tua, keluarga, atau anak. Akibatnya, penghasilan yang dimiliki harus dibagi ke banyak kebutuhan sehingga sulit menyisihkan uang untuk membeli rumah.
Menurut laporan Pinhome dan YouGov Indonesia, jutaan masyarakat Indonesia termasuk dalam kategori sandwich generation dan mengalami kesulitan dalam memiliki rumah karena tingginya biaya hidup dan harga properti yang terus meningkat.
1. Penghasilan Harus Dibagi untuk Banyak Kebutuhan
Salah satu alasan utama sandwich generation sulit memiliki rumah adalah karena penghasilan yang dimiliki tidak hanya digunakan untuk kebutuhan pribadi. Banyak orang harus membantu biaya orang tua, membayar pendidikan anak, kebutuhan rumah tangga, hingga tagihan sehari-hari. Kondisi ini membuat tabungan untuk membeli rumah menjadi lebih sedikit.
Selain itu, ketika ada kebutuhan mendadak seperti biaya kesehatan atau kebutuhan keluarga lainnya, uang yang seharusnya digunakan untuk menabung rumah sering terpakai. Akibatnya, proses membeli rumah menjadi lebih lama dibandingkan orang yang tidak memiliki banyak tanggungan keluarga.
2. Harga Rumah yang Terus Meningkat
Harga rumah setiap tahun mengalami kenaikan, terutama di kota-kota besar. Sementara itu, kenaikan pendapatan masyarakat sering kali tidak sebanding dengan kenaikan harga properti. Hal ini membuat banyak generasi muda merasa semakin sulit membeli rumah, bahkan untuk rumah sederhana sekalipun.
Tidak hanya harga rumah, biaya tambahan seperti uang muka, pajak, biaya notaris, dan cicilan bulanan juga menjadi pertimbangan besar. Karena itu, banyak orang akhirnya menunda membeli rumah karena merasa belum memiliki kondisi keuangan yang cukup stabil.
3. Gaya Hidup dan Pengeluaran Modern
Saat ini kebutuhan hidup semakin banyak, mulai dari transportasi, internet, hiburan, hingga kebutuhan digital lainnya. Jika pengeluaran tidak dikontrol dengan baik, maka uang akan cepat habis untuk kebutuhan konsumtif dan sulit dialokasikan untuk tabungan rumah.
Banyak generasi muda juga lebih memilih memenuhi gaya hidup tertentu dibanding memprioritaskan tabungan jangka panjang. Padahal, pengeluaran kecil yang dilakukan terus-menerus dapat mempengaruhi kemampuan seseorang dalam mengumpulkan dana membeli rumah.
4. Apakah Sandwich Generation Masih Bisa Punya Rumah?
Walaupun memiliki banyak tantangan, sandwich generation tetap memiliki peluang untuk memiliki rumah. Hal ini dapat dilakukan dengan perencanaan keuangan yang baik dan disiplin dalam mengatur pengeluaran.
Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah membuat prioritas keuangan dan membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Selain itu, menabung secara rutin meskipun dalam jumlah kecil dapat membantu mengumpulkan dana rumah secara perlahan.
Program Kredit Pemilikan Rumah (KPR) juga menjadi solusi yang membantu masyarakat membeli rumah dengan sistem cicilan. Dengan adanya KPR, masyarakat tidak harus membayar rumah secara langsung dalam jumlah besar.
❝Leadership is key. You don’t have to be the smatest in the room.
❞
❝Bisnis bukan cuma soal pertumbuhan, tapi juga profitabilitas. ❞
Bisakah Sandwich Generation Punya Rumah? - Dayu Dara Permata (CEO & Founder Pinhome)
Link Youtube: https://youtu.be/vkxY2KQoI2c?si=xjrIb37CaQw-Rj-K


0 Komentar